Lapar dan ketidakadilan lahirkan revolusi
Jbn- REVOLUSI , Musim dingin yang parah pada tahun 1788 membuat panen gagal dan harga roti melonjak dua kali lipat.
Bagi rakyat miskin, roti adalah kebutuhan utama, sehingga sebagian pendapatan mereka harus habis hanya untuk dibekukan.
Ironisnya, di Istana Versailles yang jauh dari sana, para bangsawan tetap hidup mewah dan berpesta, sementara rakyat menderita.

Kerajaan Prancis sebenarnya kuat, namun terbebani utang perang.
Sistem sosialnya sangat tidak adil: rakyat biasa yang berjumlah 97 persen penduduk harus menanggung beban pajak terberat, sedangkan golongan rohaniwan dan bangsawan dibebaskan.
Raja Louis XVI yang lamban mengambil keputusan akhirnya mengadakan sidang umum, namun aturan pemungutan suara tetap merugikan rakyat.

Muak, golongan rakyat membentuk Majelis Nasional dan bersumpah di lapangan tenis tak akan bubar sebelum memiliki undang-undang yang adil.
Ketika menyebarkan kabar raja akan mengerahkan pasukan, ribuan warga Paris menyerbu Benteng Bastille pada 14 Juli 1789 untuk merebut mesiu. Meskipun hanya menampung tujuh orang, benteng itu dianggap sebagai lambang kekuasaan sewenang-wenang raja.
Saat mendengar peristiwa itu, seorang penasihat raja menyatakan: "Ini bukan pemberontakan, ini revolusi."
Peristiwa ini mengubah sejarah: sistem feodal dihapus, lahirlah Deklarasi Hak Asasi Manusia, dan mulai tumbuh kesadaran bahwa kekuasaan berasal dari rakyat, bukan raja.***
Related Articles