Gempa Magnitudo 7,7 NTT: Data korban, pengungsi, dan kerusakan
Jbn-NASIONAL, Empat hari pasca-gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 70 orang.
Data tersebut dikompilasi hingga Senin (17/8/2026) pukul 23.30 WITA, dengan total keseluruhan korban terdampak sebanyak 202 orang.
Dari jumlah itu, 132 orang mengalami luka-luka, 40 orang luka berat dan 92 lainnya luka ringan.
Demikian disampaikan Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, dalam konferensi pers daring bersama BNPB, Selasa (18/8/2026).
Yudhi menyatakan, sejak hari keempat penanganan bencana, tidak ada lagi laporan warga yang masih dinyatakan hilang.
Oleh karena itu, seluruh tim SAR kini dialihkan tugasnya untuk membantu penyisiran wilayah terdampak serta mendukung proses pemulihan yang dikoordinasikan BNPB.
“Berdasarkan laporan dan masukan dari warga, tidak ada lagi tetangga atau kerabat yang tercatat masih dalam pencarian,” kata Yudhi.
Di sisi lain, jumlah warga yang terpaksa mengungsi mencapai 40.040 jiwa. Angka ini tersebar di berbagai kabupaten antara lain Manggarai (6.487 orang), Manggarai Timur (966 orang di posko BPBD dan sekitar 14.000 orang mengungsi mandiri), Nagekeo (6.221 orang), Sikka (5.681 orang), Ende (3.666 orang), Ngada (1.920 orang), serta Manggarai Barat (600 orang).
Sebagian besar warga memilih meninggalkan rumah bukan semata karena kerusakan bangunan, melainkan akibat dampak psikologis pascagempa.
Sementara itu, kerusakan rumah penduduk tercatat sebanyak 11.925 unit. Rinciannya: 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan.
Wilayah dengan kerusakan terparah meliputi Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada.
Untuk memperkuat layanan kesehatan di daerah yang sulit dijangkau, Basarnas mengerahkan kapal KN SAR Antareja 233 dari Kupang serta helikopter guna mengangkut tenaga medis dan logistik.
Sebanyak 40 tenaga kesehatan dari Kodam IX/Udayana dikirim ke Manggarai, sementara tujuh tenaga medis lainnya diterbangkan langsung ke Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur.
Delapan warga yang mengalami luka serius juga dievakuasi ke Labuan Bajo untuk perawatan intensif di rumah sakit.
Perbedaan data jumlah korban luka sempat muncul antara catatan Basarnas dan Kementerian Kesehatan.
BNPB menjelaskan hal itu terjadi karena perbedaan metode pencatatan Basarnas mencatat berdasarkan korban yang ditemukan di lapangan, sedangkan Kemenkes mencatat berdasarkan jumlah pasien yang berobat di fasilitas kesehatan.
“Hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena dasar perhitungannya memang berbeda,” jelas Plt Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.**
Related Articles