Dari jejak kolonial menuju persatuan: Sejarah panjang lahirnya Gerakan Pramuka Indonesia

Nasional 14 Aug 2026 08:25 2 min read 7 views By Jbn

Share berita ini

Dari jejak kolonial menuju persatuan: Sejarah panjang lahirnya Gerakan Pramuka Indonesia
Sejarah kepanduan di Nusantara bermula dari masa kolonial Belanda hingga inisiatif tokoh lokal mendirikan wadah kepemudaan mandiri.

Jbn-NASIONAL, Sejarah pergerakan kepanduan di Indonesia bermula sejak masa penjajahan Belanda, sebelum akhirnya disatukan menjadi Gerakan Pramuka yang kita kenal saat ini.

 

Organisasi kepanduan pertama didirikan pihak kolonial pada tahun 1912 bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie Vereeniging (NIPV).

 

Empat tahun kemudian, pada 1916, Mangkunegara VII mendirikan Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) yang bertujuan sebagai wadah pembibitan tenaga ketentaraan bagi lingkungan keraton.

 

Perkembangan terus berlanjut: Muhammadiyah mendirikan Hizbul Wathan pada 1918, disusul berdirinya berbagai wadah serupa oleh Boedi Oetomo, Jong Java, Jong Islamieten Bond, Sarekat Islam, hingga organisasi pemuda lainnya sepanjang tahun 1920-an.

 

Hingga era 1960-an, tercatat ratusan organisasi kepanduan tumbuh terpecah berdasarkan latar belakang agama, organisasi, maupun kelompok pemuda.

 

Menyadari hal tersebut kurang mendukung persatuan bangsa, Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX memprakarsai penyatuan seluruh aliran kepanduan menjadi satu wadah tunggal.

 

Pada 9 Maret 1961, Presiden Soekarno mengumpulkan para tokoh kepanduan di Istana Negara untuk menyampaikan amanat peleburan.

 

Secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tanggal 20 Mei, Gerakan Pramuka ditetapkan sebagai satu-satunya organisasi kepanduan nasional.

 

Kemudian pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka diperkenalkan secara nasional dalam upacara besar, sekaligus melantik Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Ketua Kwartir Nasional pertama, beliau pun kemudian dianugerahi gelar Bapak Pramuka Indonesia.

 

Kini, gerakan ini terus berjalan dengan kurikulum yang menekankan pembentukan karakter, rasa cinta tanah air, kepedulian lingkungan, serta keterampilan melalui tingkatan Siaga, Penggalang, Penegak, hingga Pandega.**

journal banua news