Dari Tunggul Irang menjadi panutan: Kisah hidup dan perjuangan KH. Abdul Qadir Hasan
Jbn-MARTAPURA , Kalimantan Selatan memiliki tokoh ulama besar yang tidak hanya dikenal karena kedalaman ilmunya, tetapi juga kontribusinya yang luas dalam dunia pendidikan, organisasi, hingga perjuangan kemerdekaan.
Ulama tersebut adalah KH. Abdul Qadir Hasan, yang akrab disapa masyarakat dengan panggilan penuh hormat “Guru Tuha”. Dilahirkan di Desa Tunggul Irang sekitar tahun 1891, beliau adalah putra dari pasangan Hasan Ahmad.
Sejak muda, semangat menuntut ilmu agama telah membakar jiwa.
Beliau menimba ilmu di sejumlah pesantren ternama: Pesantren Tebu Ireng Jombang di bawah bimbingan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, serta Pondok Pesantren Salafiyah Bangkalan Madura pimpinan Kyai Kholil.
Tak berhenti di situ, perjalanan mencari ilmu juga membawanya ke Madrasah Salatiah, Mekkah, Arab Saudi.
Di kampung halaman sendiri, beliau berguru kepada Tuan Guru Abdurrahman (Guru Adu) dan Tuan Guru Kasyful Anwar, pendiri Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Mengabdi untuk Pendidikan Pengalaman dan pemahaman yang luas menjadikan KH. Abdul Qadir Hasan sosok yang sangat berharga bagi dunia pendidikan.
Selama kurun waktu 1922 hingga 1940, beliau menjadi tangan kanan terpercaya KH. Kasyful Anwar dalam mengelola Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Kemudian, pada tahun 1940–1959, beliau dipercaya memegang tampuk pimpinan umum periode ke-4 menggantikan gurunya tersebut.
Di masa kepemimpinannya, beliau melakukan pembenahan sistem pendidikan dengan menerapkan jenjang bertingkat: tingkat tahdiri selama tiga tahun, dilanjutkan tingkat ibtidaiyah tiga tahun, hingga tingkat tsanawiyah tiga tahun.
Langkah ini menjadi dasar pengelolaan pendidikan yang lebih terstruktur di pesantren tersebut.
Peran Luar Biasa di Politik dan Kemasyarakatan Selain pendidikan, nama KH. Abdul Qadir Hasan juga tercatat dalam lembaran sejarah perjuangan.
Beliau mendukung penuh gerakan gerilya Kalimantan yang dipimpin Hasan Basri. Meskipun tidak turun langsung ke medan perang, sebagai sesepuh beliau menggerakkan dan mengajak masyarakat Banjar, khususnya para santri Darussalam, untuk ikut berjuang melawan penjajah Belanda.
Pada tahun 1950-an, beliau bersama Tuan Guru Zainal Ilmi turut aktif memulihkan keamanan di Desa Dalam Pagar, Martapura.
Di bidang pemerintahan, beliau menjabat sebagai anggota DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan dari unsur Nahdlatul Ulama (NU) pada periode 1960–1970.
Perintis Nahdlatul Ulama di Kalimantan Kontribusi beliau bagi organisasi kaum ulama pun tak terhitung.
Pada tahun 1928, KH. Abdul Qadir Hasan menjadi orang pertama yang mendirikan wadah Jam’iyyah Nahdhatul Ulama di Martapura, yang menjadi cikal bakal berkembangnya NU di seluruh Kalimantan.
Karir organisasinya terus berlanjut: menjadi A’wan Syuriah NU Kalimantan pada tahun 1952, anggota Syuriah PWNU Kalimantan Selatan di masa kepemimpinan Ridwan Sjahrani tahun 1953, hingga akhirnya duduk sebagai anggota Syuriah Pengurus Besar NU.
Jejak panjang kehidupan KH. Abdul Qadir Hasan menjadi bukti nyata bagaimana seorang ulama dapat menyatukan ilmu agama, pengabdian pendidikan, dan perjuangan demi kemajuan bangsa serta daerahnya.**
Related Articles