Dari zaman kesultanan hingga kini: keunikan Pasar Terapung yang tetap bertahan

Daerah 28 Jun 2026 14:17 3 min read 27 views By jbn

Share berita ini

Dari zaman kesultanan hingga kini:  keunikan Pasar Terapung yang tetap bertahan
Di pasar ini, terdapat istilah khas yang melekat pada para pelaku usaha.

jbn, WISATA -Pasar Terapung bukan sekadar tempat bertransaksi, melainkan pusaka saujana yang menjadi identitas khas Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

 

Dua pasar terapung yang paling dikenal dan tetap lestari hingga saat ini adalah Pasar Terapung Muara Kuin di aliran Sungai Barito, serta Pasar Terapung Lok Baintan yang berada di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, di sepanjang Sungai Martapura.

Berlokasi di muara pertemuan Sungai Barito dan Sungai Kuin, Pasar Terapung Muara Kuin telah menjadi pusat kegiatan ekonomi rakyat sejak lama.

 

Sejak usai salat Subuh hingga sekitar pukul tujuh pagi, permukaan air sungai dipenuhi jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar, yang mengangkut pedagang dan pembeli.

 

Saat matahari terbit, cahayanya memantul di atas air sembari transaksi berlangsung, menampilkan beragam hasil kebun dan pertanian yang dibawa dari desa-desa di sepanjang aliran sungai dan anak-anak sungainya.

Di pasar ini, terdapat istilah khas yang melekat pada para pelaku usaha.

 

Pedagang wanita yang menjual hasil kebunnya sendiri atau tetangganya disebut dukuh, sedangkan pembeli yang kemudian menjual kembali barang tersebut disebut panyambangan.

 

Yang paling istimewa, tradisi barter masih dijalankan secara aktif, yang dalam bahasa Banjar dikenal dengan istilah bapanduk.

 

Sementara itu, Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura memiliki ciri khas yang serupa.

 

Sudah ada sejak masa Kesultanan Banjar, pasar ini beroperasi dalam rentang waktu singkat, yaitu mulai pukul 06.00 hingga 09.30 Wita.

 

Sebelum jam operasional dimulai, terlihat konvoi perahu yang berdatangan dari berbagai anak sungai seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, dan lainnya, membawa hasil bumi untuk diperjualbelikan.

 

Mayoritas pedagang di sini adalah kaum perempuan yang tampil khas dengan mengenakan penutup kepala bernama tanggui.

 

Berbagai dagangan tersedia, mulai dari sayur-mayur segar, buah-buahan, hingga aneka kue tradisional.

 

Sistem tukar-menukar barang masih menjadi pilihan utama; uang bukanlah alat transaksi yang paling dominan.

 

Kesepakatan nilai dan jumlah barang yang ditukarkan diserahkan sepenuhnya pada persetujuan kedua belah pihak.

 

Untuk mencapai lokasi Pasar Terapung Lok Baintan, pengunjung dapat memilih dua jalur.

 

Melalui jalur air menggunakan klotok atau sampan bermesin, perjalanan hanya memakan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota.

 

Jika menggunakan kendaraan darat, waktu tempuh menjadi lebih lama, yakni sekitar satu jam, mengingat medan jalan yang berliku dan cukup berat.

 

Hingga kini, kedua pasar terapung ini tetap menjadi saksi hidup budaya masyarakat Banjar, mempertahankan cara berdagang tradisional yang jarang ditemukan di tempat lain, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat kearifan lokal Kalimantan Selatan.**

journal banua news