Kemarau 2026 berpotensi terparah 30 tahun terakhir: Sungai menjadi wisata dadakan

Daerah 12 Aug 2026 21:24 2 min read 18 views By Jbn

Share berita ini

Kemarau 2026 berpotensi terparah 30 tahun terakhir: Sungai menjadi wisata dadakan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sejumlah daerah pun mulai mengantisipasi dengan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak dan mengerahkan tim siaga kebakaran hutan dan lahan.

Jbn- BANUA, Musim kemarau yang berlangsung di tahun 2026 menunjukkan tanda-tanda menjadi yang paling ekstrem dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

 

Berbagai wilayah di Kalimantan mulai merasakan dampak nyata, mulai dari penyusutan air sungai hingga munculnya kabut asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

 

Beberapa sungai besar yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan mengalami penurunan debit air yang sangat drastis.

 

Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, Sungai Barito, dan Marwan Lama menjadi contoh nyata. Di wilayah Sanggau, Kalbar, dasar Sungai Kapuas bahkan terlihat jelas hingga warga dapat berjalan kaki hingga ke tengah aliran sungai.

 

Fenomena ini pun secara spontan dimanfaatkan warga sebagai tempat wisata dadakan untuk berfoto dan bersantai, meski di baliknya tersembunyi tanda peringatan akan kondisi alam yang tidak biasa.

Kondisi ini mengingatkan pada kemarau dahsyat tahun 2015 yang menjadi catatan terburuk selama ini.

 

Berdasarkan analisis iklim BMKG Wilayah V Banjarbaru, curah hujan di sebagian besar Kalimantan tercatat jauh di bawah rata-rata normal pada bulan Juli–Agustus 2026.

 

Selain itu, Indeks Kekeringan Tanah juga terus meningkat tajam, menandakan kemarau saat ini berpotensi melampaui tingkat keparahan tahun 2015 jika tidak ada curah hujan signifikan dalam waktu dekat.

 

Kekhawatiran semakin mendalam seiring mulai munculnya kabut asap, terutama di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya seperti Landasan Ulin.

 

Warga mengeluhkan jarak pandang yang semakin terbatas, sehingga pengguna jalan terpaksa mengandalkan bunyi klakson dan lampu kendaraan untuk saling mengenali posisi.

 

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak warga mulai merasakan sesak napas dan rasa panas saat menghirup udara luar. "Kami berharap ini tidak dianggap sepele.

 

Kami yang setiap hari menghirup udara di sini yang paling merasakan dampaknya"

 

" Kami juga meminta pihak berwenang segera menelusuri dan menindak tegas oknum yang melakukan pembakaran lahan sembarangan yang memperparah kondisi ini," jelas salah satu warga Landasan Ulin.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sejumlah daerah pun mulai mengantisipasi dengan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak dan mengerahkan tim siaga kebakaran hutan dan lahan.

 

Pemerintah daerah bersama pihak terkait juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah atau lahan, serta menjaga kebersihan udara demi kesehatan bersama di tengah ancaman kemarau panjang ini.**

journal banua news