Dibantu keahlian UEA, Kazakhstan cari solusi air lewat penyemaian awan

Teknologi 15 Aug 2026 05:42 3 min read 11 views By admin

Share berita ini

Dibantu keahlian UEA, Kazakhstan cari solusi air lewat penyemaian awan
Ketiga negara di Asia Tengah sepakat meningkatkan kerja sama pengelolaan air Sungai Syr Darya lewat sistem pemantauan otomatis yang disepakati awal Agustus ini.

Jbn-TURKESTAN, Sebuah pesawat khusus milik Pusat Meteorologi Nasional Uni Emirat Arab lepas landas dari bandara Turkestan pada 10 Juli lalu, membawa peralatan penyemaian awan berupa suar garam higroskopis.

 

Meski kru yang dipimpin pilot Ahmed Aljaberi telah bersiap, misi hari itu belum menemukan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek penyemaian awan berskala besar yang diluncurkan pemerintah Kazakhstan sejak 16 Mei 2026.

 

Program ini menyasar lebih dari 911.000 hektar lahan pertanian di wilayah penghasil kapas utama negara itu, dengan perkiraan manfaat ekonomi mencapai 35 miliar tenge atau setara 75 juta dolar AS per tahun.

 

Kerja sama ini memanfaatkan pengalaman puluhan tahun UEA dalam bidang modifikasi cuaca yang telah dimulai sejak akhir 1980-an.

 

Para ahli dari negara tersebut juga turut melatih tenaga teknis, pilot, serta ahli meteorologi di Kazakhstan.

 

Sebelum menetapkan lokasi, Kazhydromet telah menganalisis data 39 stasiun pengamat selama 2020–2024 dan memilih Turkestan berdasarkan kondisi atmosfer serta bentang alamnya.

 

Cara kerjanya pun terbatas: teknologi ini hanya mampu meningkatkan curah hujan dari awan yang sudah ada, bukan membentuk awan baru dari udara jernih.

 

Partikel seperti natrium klorida dan kalium klorida dilepaskan agar tetesan air di awan menyatu dan turun sebagai hujan.

 

Hingga 13 Juli, sudah tercatat 11 kali penerbangan operasi di wilayah Otyrar dan Sozak, namun dampak nyata penambahan curah hujan masih dalam tahap analisis.

 

Pemerintah menaksir potensi kenaikan hujan 10–20 persen saat kondisi mendukung, meski Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat efektivitasnya bervariasi dan sulit diukur secara pasti.

 

Langkah ini diambil setelah wilayah selatan Kazakhstan dilanda kekeringan parah pada 2025, di mana sebagian wilayah Turkestan tak turun hujan hingga delapan bulan.

 

Tekanan semakin terasa akibat pembatasan pasokan irigasi sebesar 3,8 miliar meter kubik tahun ini serta ketergantungan pada air lelehan salju dan aliran sungai dari negara tetangga.

 

Pemerintah sendiri mengakui penyemaian awan bukan solusi tunggal, dan tetap mendorong perbaikan sistem irigasi serta penggunaan teknologi hemat air. Namun proyek ini tak lepas dari perdebatan.

 

Petani melon di Zhetysay mengaitkan kerugian panen dengan hujan lebat pada awal Juni, meski pihak berwenang menyangkal keterkaitan itu dan menuding serangan penyakit.

 

Kirgistan pun menyuarakan kekhawatiran intervensi atmosfer dapat mengganggu siklus air kawasan, meski ilmuwan menegaskan dampak penyemaian awan bersifat lokal dan tidak memindahkan uap air dari wilayah lain.

 

Sementara itu, Uzbekistan juga mulai merancang program serupa. Ketiga negara di Asia Tengah sepakat meningkatkan kerja sama pengelolaan air Sungai Syr Darya lewat sistem pemantauan otomatis yang disepakati awal Agustus ini.

 

Hingga kini, proyek Turkestan masih dalam tahap pembuktian manfaat nyata, sebagaimana yang terlihat pada penerbangan 10 Juli: segala peralatan sudah siap, namun teknologi tetap tak bisa berbuat apa-apa tanpa awan yang cocok.**

journal banua news